TPA Banjaran Masuki Proses Kajian

PURBALINGGA, HUMAS РTempat Pembuangan akhir (TPA) yang berlokasi di Desa Banjaran, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga, segera memasuki proses kajian. Hasil kajian itu nantinya sebagai acuan apakah TPA yang sudah 20 tahun beroperasi, harus direlokasi atau direvitalisasi.  Saat ini, Badan Lingkungan Hidup (BLH)) Purbalingga tengah membuat kerangka acuan kerja (KAK).
Kepala BLH Ichda Masrianto menuturkan, pemkab sudah mengalokasikan anggaran APBD tahun 2014 sebesar Rp 190 juta. Jika semua berjalan lancar, akhir bulan ini sudah bisa dimasukan ke Unit Layanan Pengadaan (ULP). Sehingga pada bulan depan sudah bisa diproses lelang oleh LPSE.
“Kita berharap dalam waktu 150 hari setelah ada pemenang lelang, kajian oleh tim ahli sudah bisa selesai,” katanya, Senin (17/2).
Hasil kajian terkait TPA, lanjut Ichda ada dua opsi, yakni relokasi atau revitalisasi. Jika memang direlokasi, maka pemerintah harus mencari dan membuat studi kelayakan tempat baru, membuat detail engenering design (DED), pembebasan tanah hingga pembangunan lokasi baru.
“Kita tidak bisa asal pindah, tetapi harus melalui kajian dan lainnya. Itu kalau harus relokasi, dan tentunya akan memakan biaya dan waktu yang lebih lama. Tetapi apapun hasil kajian nanti, pemerintah harus menganggarkan dana demi melaksanakan rekomendasi itu,” ujarnya.
Tetapi, kata dia, jika hanya dilakukan revitalisasi, maka harus ada penanganan sanitary landfill secara baik. Yakni dengan menerapkan pemilahan sampah, pengurukan sampah secara berkala, dan pengolahan sampah menjadi produk memiliki nilai manfaat untuk masyarakat, seperti pupuk organik, gas metan untuk dijadikan biogas dan listrik rumah tangga.
Langkah yang tepat jika harus revitalisasi adalah menerapkan sistem renfill cell misalnya dengan menguruk tiga perempat lokasi TPA dengan tanah. Sementara sisanya yang ada di sisi kanan untuk pembongaran sampah, sisi kiri diurug lagi dengan tanah. Seminggu kemudian, lokasi dapat digeser secara bertahap. “Jika semua sudah rata, maka pembuangan sampah kembali ke urukan awal, hal ini terus dilakukan secara bertahap agar TPA menjadi lebih baik dan aman,” ujarnya.
Dari TPA itu, tambah Ichda, nantinya harus ada proses pemilahan sampah, yakni organik dan an organik. Sampah anorganik bisa dimanfaatkan oleh pemulung, dan sampah organik bisa  dimanfaatkan menjadi biogas. Biogas tersebut nantinya disalurkan ke pemukiman warga.
“Nantinya, warga sekitar tidak perlu membeli elpiji, karena biogas ini dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan harian warga. Tentunya instalasi biogas harus dibuat terlebih dulu,” kata Ichda.
Sementara itu, saat ini TPA Banjaran sudah mulai dilakukan pengurukan oleh petugas Bidang Kebersihan dan Pertamanan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) terhadap timbunan sampah. Adapun sampah yang belum diuruk dipadatkan terlebih dulu menggunakan alat berat.
“Awalnya, DPU menganggarkan dalam setahun dilakukan empat kali pengurukan. Namun oleh Sekda Imam Subijakto, pengurukan diminta dilakukan seminggu sekali agar polusi udara dapat dikurangi. (Humas/Hr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

bapem © 2014 Frontier Theme